Baru 40 Persen UKM Manfaatkan Teknologi Informasi

TEMPO.COJakarta - Perpustakaan membuka cakrawala ilmu dan informasi yang kini bisa diakses secara mudah oleh semua orang. Dari perpustakaan pula banyak orang yang merasakan manfaatnya. Mulai keilmuan, penelitian, pelestarian budaya, praktisi, hingga informasi dan rekreasi positif untuk mendukung dalam menjalankan sebuah usaha atau bisnis, terutama skala kecil-menengah (UKM). Kondisi ini menjadi pendorong mulai bermunculannya para pengusaha UKM di daerah-daerah.

Mahmud Yunus, pemerhati UKM, mengatakan jumlah pelaku bisnis dengan omzet Rp 100 juta hingga Rp 4 miliar per bulan itu kini mencapai lebih dari 56,5 juta atau 99,98 persen dari total unit usaha di berbagai bidang yang ada di Indonesia. Sedangkan komposisinya, sesuai data Dirjen Industri Kecil-Menengah Kementerian Perindustrian, sekitar 40 persen di luar Jawa dan 60 persen di Jawa. “Dari jumlah UKM itu, hanya 30-40 persen yang sudah memanfaatkan kecanggihan TI (teknologi informasi) untuk mengembangkan bisnisnya,” ujarnya.
Mahmud, yang juga dikenal sebagai mentor para UKM, menegaskan sudah saatnya para pengusaha UKM ini melek TI, terutama untuk mengakses informasi guna mengembangkan bisnis mereka. Apalagi, menurut Mahmud, kini banyak juga tempat-tempat yang telah menyediakan fasilitas Internet secara gratis. Salah satunya melalui perpustakaan yang tersebar di seluruh provinsi dan kabupaten atau kota.
Menurut Mahmud, ini harus dimanfaatkan para pengusaha UKM agar bisnisnya tidak lagi terkesan tradisional. "Mereka bisa mulai bertransaksi secara online,” katanya.
Di sisi lain, kata Mahmud, melalui dukungan teknologi informasi di perpustakaan ini, para pengusaha UKM bisa mengakses pengetahuan dan berbagi informasi tentang pasar, produksi, manajemen, serta permodalan. Banyak brand UKM yang sukses setelah bersentuhan langsung dengan Internet.
Salah satu contoh sukses mereka yang memanfaatkan perpustakaan adalah Sanikem, 39 tahun. Awalnya, usahawan lurik asal Yogyakarta ini hanya menyambi membuat batik lurik. Dalam sehari dia membuat lima potong lurik.
Ia mengaku pusing memasarkan karyanya. Beruntung ada pustakawan yang mengajaknya untuk bertandang ke perpustakaan. Seumur-umur, pengusaha yang mengenyam pendidikan hanya sampai kelas 2 SMP ini baru memegang layar komputer ketika memasuki perpustakaan Sukoharjo. (Baca: Fakta Menarik Indonesia Menurut Facebook)
Kini Sanikem lancar mengunggah foto lurik bikinannya di laman Facebook dan memasarkan secara online. Penjualan online membuatnya kebanjiran order. Jika tadinya dia hanya membuat lima lurik, setelah kenal media sosial Facebook, setiap minggu orderan bisa lebih dari 150 kain. Pesanan tidak hanya datang dari Sukoharjo, tapi dari Kalimantan, Sumatera, Jakarta, dan Jawa Barat.(Baca: Di Indonesia, Facebook Akan Garap UMKM)